Mbah Maridjan

If a mountain could talk it would tell us a story….Helloween “If A Mountain Could Talk”

Beberapa saat setelah Merapi meletus, aku sempat meng-upload beberapa foto lama ketika ke rumah Mbah Maridjan. Seorang teman kemudian bertanya, kok gak ditulis pengalaman dan kesannya ketika bertemu Mbah Maridjan.

Aku ingat perjalanan ke rumah Mbah Maridjan adalah bagian dari jalan-jalanku bersama seorang senior, disela-sela kegiatan diklat untuk guru vokasi regional barat, yang kebetulan diselenggarakan di PPPPTK Matematika, Yogyakarta, yang diselenggarakan selama 20 hari.

PICT2186 

Perjalanan diawali dengan mengunjungi ketep. tempat wisata ini diresmikan oleh Megawati. Tema dari obyek wisata ini adalah gunung Merapi berserta letusannya. Ada teater yang memutar film letusan Merapi pada tahun 2006. Tapi aku tidak masuk ke teater tersebut. Hanya jalan-jalan dan foto-fotoan sedikit, lalu dengan gembira menuju warung untuk minum kopi bersama seorang teman. Terkejut dengan porsi kopinya. 1 sachet kopi instan dalam gelas (meminjam istlah seorang teman di kantor – yg murid si tuan panglos itu – bagi yg ingin tahu siapa itu tuan panglos: http://www.urbandictionary.com/define.php?term=panglos) “kumbokarno”. Aku sempat komentar, abis minum kopi disini pasti kembung nih.

PICT2425

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke pos pemantau Merapi di desa Babadan. Di masa kuliah dulu sebenarnya aku sudah beberapa kali ke pos pengamatan Merapi. Mulai dari yang di Klaten juga Sleman. Pos pengamat babadan termasuk pos pengamat terdekat dengan puncak Merapi (4 Km dari puncak…sekarang pasti sudah porak-poranda pos itu).

PICT2449 

Setelah foto-fotoan dan masuk bunker, lalu perjalanan di lanjutkan ke kediaman Mbah Maridjan di daerah Cangkringan. Ada yang bilang Mbah Maridjan super sibuk. jd kami sempat was-was juga kalau tidak bertemu. Ternyata bisa bertemu dengan Mbah Maridjan. Jalan menuju kediaman Mbah Maridjan telah di paving bagus. Ada yang bilang itu didanai oleh pabrik minuman energi yang menjadikan Mbah Maridjan sebagai bintangnya. Lalu didekat rumah Mbah Maridjan ada masjid yang kalau menurut ukuran desa, lumayan megah.

PICT2494

Mbah Maridjan lembut sekali nadanya ketika berbicara. Lucu komentar-komentarnya. Ketika tahu jika kami datang dari Malang, Mbah Maridjan lalu mengajak berbicara tentang Lapindo. tentang bagaimana serakahnya nafsu manusia sehingga terjadi kerusakan alam yang sedemikian parah dan dampaknya sangat menyusahkan rakyat. Mbah Maridjan menolak jika diajak foto. Kata Mbah Maridjan kalau mau foto-fotoan dengan dirinya sebaiknya dengan potret dirinya saja. Rupanya Mbah Maridjan sudah menyediakan lukisan dirinya lengkap dengan tulisan “bale labuhan”. Labuhan adalah prosesi ritual terkait dengan Merapi. Dan tugas Mbah Maridjan sebagai juru kunci memang menyelenggarakan prosesi itu . Kutipan dari wiki terkait dengan prosesi itu :

Labuhan sacrificial ceremony dedicated to the spirits of Mount Merapi. A procession from the royal palace on Yogjakarta led by the guardian sacrifices to the volcano spirits a set of ritual offerings including textiles, perfume, incense, money and, every eight years, a horse saddle. He described his job, for which he was paid $1 a month, as being "to stop lava from flowing down. Let the volcano breathe, but not cough”

PICT2483

Rupanya saat ini Merapi tidak hanya batuk, tapi juga pilek. Yang akhirnya juga merenggut hidup Mbah Maridjan. Ada sementara orang yang menganggap tindakan Mbah Maridjan dengan menolak diungsikan adalah bodoh. Tapi permasalahannya adalah bukan disana. Tapi jabatan sebagai juru kunci memang mengharuskan itu. Bukan mengharuskan untuk bodoh, tapi mengharuskan pada tanggung jawab. Karena hanya juru kunci yang bisa “berbicara” pada Merapi. Mungkin karena kita tidak bisa “mendengar” apa kata Merapi, sehingga kita berkata tindakan Mbah Maridjan adalah bodoh. Berbicara dan mendengar adalah interaksi aktif. Hanya bisa dilakukan oleh orang yang memang telah lama tinggal disitu, sehingga apa yang terjadi dalam soal atau hidup adalah terkait dengan takdir. Seperti kata Mbah Maridjan “ penduduk Kinahrejo telah ditakdirkan untuk menjadi benteng untuk menjaga harta kraton dan masyarakat Mataram”. Selamat jalan Mbah…



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.