Not One Less
Telah dituliskan: Januari 2, 2011 Filed under: Resensi Leave a comment »
Barusan liat film Not One Less. Sungguh mengharukan ! Ini recommended buat teman2 di kantor terutama yg ada di Lab Pendidikan IPS SD. Not One Less adalah filmnya yang dibuat tahun 1998 berdasarkan skenario yang ditulis oleh novelis Cina Shi Xiangsheng. Seperti film-filmnya yang lain, Not One Less pun sangat kental dengan kehidupan masyarakat Cina lapisan bawah. Kali ini, dalam Not One Less diceritakan tentang seorang gadis, Wei Minzhi (Wei Minzhi) berusia 13 tahun yang menjadi guru pengganti pada sebuah sekolah dasar di satu desa terpencil di Provinsi Heibei. Wei Minzhi menggantikan guru Gao yang harus merawat ibunya yang sakit di kota selama satu bulan.
Dengan kondisi sekolah yang serba minim (gedung reyot, bangku-bangku yang rusak, kapur tulis yang sangat terbatas jumlahnya), kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan. Wei Minzhi yang berasal dari keluarga miskin berharap akan mendapat upah sebesar 50 yuan plus 10 yuan sebagai upah tambahan jika ia mengajar dengan baik selama guru Gao pergi dan “tidak kurang satu anakpun” sampai Gao kembali.

Jumlah murid seluruhnya ada 28 dari yang semula 40 orang pada awal tahun pelajaran. Satu persatu para murid tersebut pergi meninggalkan bangku sekolah mereka untuk bekerja di kota. Pada saat Wei mengajar, kembali hal itu terjadi. Salah seorang murid ternakal, Zhang Huike (Zhang Huike), pada suatu hari tidak masuk sekolah. Huike pergi mencari kerja di kota agar bisa mendapat uang demi membayar utang ibunya yang sedang sakit. Wei bertekad mencari dan membawa kembali Huike ke sekolah mereka.
Maka dimulailah perjalanan guru muda itu menemukan muridnya di kota. Dengan berjalan kaki karena tidak punya cukup uang untuk membeli tiket bus, ia pun sampai di kota. Berbekal sebuah alamat di amplop surat dari ibu Huike, Wei tanpa putus asa terus berusaha menemukan muridnya yang ‘hilang’ itu.
Namun tidaklah mudah menemukan seorang anak lelaki berusia 11 tahun di tengah-tengah kota tanpa informasi yang memadai tentangnya. Berbagai cara dilakukan oleh Wei tanpa kenal lelah hingga sampailah ia pada sebuah stasiun televisi dan memberanikan diri bertemu dengan sang manajer. Dengan kebaikan hati si manajer tv, maka lalu upaya pencarian Huike disiarkan oleh stasiun tv tersebut. Melalui siaran tivi itulah akhirnya Huike berhasil ditemukan. Bukan itu saja, kisah Wei dan murid-muridnya yang miskin telah mengundang simpati para penonton. Dari situ terkumpullah dana dari para donatur untuk perbaikan gedung sekolah tempat Wei mengajar.

Seluruh karakter di film ini diperankan oleh para “amatir”. Mereka bukanlah para aktor dan aktris film sungguhan. Setiap pemain memerankan “dirinya sendiri”. Misalnya, sang kepala sekolah Tian (Tian Zhenda) dalam kehidupan sebenarnya memang berprofesi sebagai kepala sekolah. Tentu ini adalah hasil sebuah kerja profesional dari seorang Yimou sehingga film ini menjelma dengan amat bersahaja dan apa adanya.
Sebuah kisah yang mengharukan. Melihat kondisi sekolah itu, saya jadi teringat pada sekolah-sekolah dasar di negeri kita yang bernasib sama. Gedung yang nyaris roboh, atap sekolah yang runtuh, guru-guru di daerah terpencil yang bergaji sangat minim, adalah wajah pendidikan di Indonesia. Sungguh memilukan. Kepedulian pemerintah dan swasta akan hal ini amat kecil. Padahal, katanya pendidikan untuk semua.